Home / Berita Hari Ini / Keterampilan Inti Perlu Diajarkan Dosen Pada Milenial

Keterampilan Inti Perlu Diajarkan Dosen Pada Milenial

Pusat Inovasi Pembelajaran (PIP) Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) menggelar kembali Core Skills Introductory Course pada Senin (13/3) dan Selasa (14/3) di Operation Room Gedung 0 Rektorat Unpar.

Bekerja sama dengan British Council Indonesia, PIP mengajak dosen Unpar untuk berpartsipasi dalam mendiskusikan perancangan kegiatan untuk mengembangkan keterampilan inti (core skills) pada proses pembelajaran. Peserta terlibat aktif dalam diskusi dan kerja kelompok untuk mendalami pemahaman konsep sekaligus merencanakan aplikasi pembelajaran berbasis core skills. Keterampilan inti ini terdiri dari, kewarganegaraan, kolaborasi dan komunikasi, kreativitas dan imajinasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah, melek digital, dan kepemimpinan.

Dosen diperkenalkan pada konsep keterampilan inti atau dikenal dengan sebutan 21st century skills. Keterampilan ini wajib dimiliki peserta didik dalam mempersiapkan diri memasuki tantangan ekonomi global.

Kepala PIP Agus Sukmana mengatakan pelatihan ini terbuka untuk seluruh dosen Unpar, terutama dosen-dosen senior. Ia menambahkan dosen senior perlu dibekali mengenai konsep keterampilan inti karena mampu merefleksikan pengalaman mengajarnya ke dalam pelatihan ini dan perbedaan era antara dosen dan mahasiswa.

“PIP ingin membangun kesadaran kalau dunia sudah berubah dan mengajak dosen untuk berubah dalam mengelola proses pembelajaran, serta bagaimana merespons mahasiswa karena generasinya kan berbeda dan tidak bisa diperlakukan sama. Kalau tidak update dan paham, nanti dosen menganggap generasi sekarang itu malas dan tidak kritis,” Agus menerangkan.

Ditemui di ruangannya, Agus mengungkapkan, pelatihan ini dikemas dengan gaya reflektik dan bermain-sambil-belajar yang sifatnya induktif. Ketika bermain, tambahnya, peserta akan merefleksikan diri, berbeda dengan pelatihan-pelatihan lain yang sifatnya mengajari. Menurutnya, dosen harus diberikan pelatihan dengan cara yang beragam.

Pelatih-pelatih dari berbagai universitas di Bandung yang juga bekerjasama dengan Unpar memberikan materi mengenai konsep keterampilan inti. Peserta diperkenalkan pada cara-cara dalam belajar, yakni think-pair-share, role play, brainstorming, whole-group discussion, small-group discussion, dan lainnya. Para peserta yang terdiri dari 36 dosen dari tujuh fakultas di Unpar, Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Filsafat (FF), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), dikelompokkan ke dalam tujuh kelompok yang masing-masingnya berisi 4-5 orang.

Setiap kelompok itu harus menuliskan kelebihan dan kekurangan masing-masing cara belajar di atas kertas A0. Setelah waktu habis, tiap kelompok akan berkeliling ke meja kelompok lain untuk melihat hasil kelompok lain dan menambahkan ide-ide baru bila ada kekurangan.

“Setelah mengikuti kegiatan tadi. Saya belajar untuk mendengarkan pendapat, berani mengungkapkan pendapat, dan menemukan hal baru dari berbagai gagasan sehingga memperkaya wawasan saya,” ujar Dosen Mata Kuliah Umum (MKU) Bartolomeus Samho, S.S., M.Pd. ketika menjawab pertanyaan pelatih.

PIP merencanakan pelatihan yang lebih detail untuk satu topik karena setelah angkatan kedua Introductory Course ini akan berjarak lama untuk membuka angkatan ketiga. Agus menuturkan, PIP akan membuka pelatihan untuk mendesain proses pembelajaran dan diharapkan peserta akan menerapkannya dalam sepuluh minggu perkuliahan. Pada akhir perkuliahan bulan Desember, Agus menambahkan, peserta akan berkumpul kembali dan membagikan pengalamannya dalam menerapkan proses pembelajaran di program studinya.

“Rencana ini akan dijadikan sebagai prioritas PIP untuk menyadarkan dan melatih dosen karena selain konten pengetahuan, juga ada keterampilan yang harus diterapkan dan dilatih dalam proses perkuliahan,” tandasnya.

Salah satu peserta yang adalah Dosen FISIP Roni Tua S.IP., M.T. menyatakan persetujuannya ihwal perubahan cara penyampaian kuliah akibat perubahan zaman dan pola pikir. Menurutnya, dukungan dari kampus akan memudahkan perubahan cara mengajar, seperti warna spidol yang variatif, sehingga dosen tidak harus menyiapkannya sendiri.

Lain halnya dengan Dosen MKU Yusuf Siswantara, S.S., M.Hum. Ia menyatakan, banyak hal baru yang ia pelajari dalam penataan cara mengajar dan materi yang diberikan inspiratif dan menantang untuk dipraktikkan.

“Penataan, itu kata kuncinya. Ada beberapa hal yang selama ini terlewatkan, misalnya dalam memberi pertanyaan di kelas. Seharusnya memberikan pertanyaan yang sengaja dan diurutkan, mana yang informatif, bersifat mendalami, atau harus dijawab berbarengan,” ia menjelaskan.

Ia mencontohkan salah satu mata kuliah yang ia ajarkan, Logika dan Kepemimpinan Dasar. Selama ini, menurutnya, banyak mahasiswa yang menganggap bahwa Logika sama dengan berpikir, padahal tidak karena ada sisi kreatifnya. Sedangkan pada mata kuliah kepemimpinan dasar, tambahnya, kreativitas memang disinggung dalam pelajaran itu. Namun, matriks penilaiannya yang harus dipikirkan karena kreativitas bukan sekadar kreatif yang dinilai subjektif, tetapi juga ada sisi orisinalitas.

X